Loading...
ngalor-ngidul

The high mountains of Portugal — Bagian ke 2 “Menuju Rumah”

“Fakta menyedihkannya adalah
tidak ada kematian yang alami,
tidak peduli apa kata dokter. Oleh
orang yang ditinggalkan, setiap
kematian akan dirasakan sebagai
pembunuhan, sebagai
perenggutan nyawa seseorang
yang disayanginya secara tidak
adil.” (h.207)

Berlanjut ke “Menuju Rumah”.

Kisah kedua ini menyeramkan bagi saya karena bercerita tentang proses yang dialami oleh tubuh manusia setelah kematian. Ceritanya juga lebih terasa absurd. Sekalipun tidak mudah memahami alur cerita, namun kisah yang dibangun dengan kalimat-kalimat filosofis khas Yann Martel membuatnya enak dibaca pelan-pelan.

Eusebio Lozora adalah tokoh utama. Cerita dibuka dengan penjelasan tentang siapa Eusebio, seorang laki-laki beruntung yang memiliki semua unsur pembentuk kehidupan yang bagus.

Dia memiliki pekerjaan sebagai kepala bagian patologi di rumah sakit terbesar di Alto Douro, istri yang cantik dan tiga anak yang tumbuh sehat dan bahagia. Sebuah kebaikan Tuhan yang terus menerus diingat dan disyukuri olehnya.

Hari itu adalah hari terakhir bulan Desember 1938 dan Eusebio sedang lembur. Masih ada laporan yang perlu diselesaikan.

Satu laporan yang dihindarinya itu harus dirampungkan malam ini, tentang mayat yang tergilas dan ditinggalkan selama beberapa hari dalam keadaan setengah terpapar udara terbuka, setengah terbenam di sungai. Mengandung pembusukan dan pembengkakan (h. 175)

Ketukan dan kedatangan Maria Luisa Motaal Lozora sang istri di pintu kantor Eusebio, membawa kita pada diskusi (monolog) panjang (suami) istri penggemar buku-buku Agatha Christie, tentang misteri mukjizat dan pembunuhan Yesus yang disandingkan dengan misteri pembunuhan Agatha Christie

“Dan akhirnya, bukankah ini cara
paling jelas untuk menggambarkan
kehidupan Yesus, sebagai sebuah
misteri pembunuhan? Satu nyawa
Melayang, satu korban yang tidak
berdosa. Siapakah pelakunya?
Siapakah yang memiliki motif dan
peluang? Apakah makna semua
itu? Seorang detektif andal
diperlukan untuk memecahkan
kasus kriminal, dan dia datang,
bertahun-tahun setelah
pembunuhan terjadi, Hercule Poirot
dari abad pertama: Paulus dari
Tarsus.” (h. 204-205)

Percakapan (monolog) suami istri ini menghabiskan cukup banyak halaman, sedikit absurd namun juga menarik membaca bagaimana Yesus Kristus dan Agatha Christie, Rasul Paulus dan Hercule Poirot disejajarkan oleh tokoh Maria.

Alur kisah kedua ini semakin sulit untuk dipahami, saat kedatangan maria yang lain, senhora Castro yang berasal dari desa Tuizelo, pegunungan tinggi Portugal.

Menempuh perjalanan jauh, ia membawa mayat suaminya untuk dibedah. Namun sebelum pembedahan tubuh dilakukan, pembaca diajak untuk mendengar kisah muda senhora Cantro yang dituturkan langsung olehnya kepada Eusebio.

Sebuah kisah romantis nan bergairah, kisah cinta yang mampu membuat iri semesta, hingga kematian seorang anak menluluhlantahkan semua.

“Duka adalah penyakit. Kami
digerogoti oleh bopeng-bopengnya,
disiksa oleh demamnya,
dihancurkan oleh pukulannya. Duka
melahap kami bagaikan belatung,
menyerang kami bagaikan kutu –
kami menggaruk-garuk sampai
nyaris gila.” (h. 255)

Tak tertanggungkan menahan Kesedihan Rafael sang suami meninggal, dan untuk mengetahui bagaimana sang suami hidup, senhora Castro memutuskan untuk meminta tolong Dr. Eusebio membedah sang suami.

Dalam pembedahan lapisan-demi lapisan bagian tubuh, kita akan menemukan benda dan hal-hal tak terduga dalam lapisan-lapisan tersebut, seperti muntahan segar dan koin yang ada di kaki, seruling yang ada di penis, palu, tang, pisau, apel, lumpur, gandum, telur, ikan, pisau dan garpu di lengannya. Juga ada seekor simpanse dan seekor anak beruang yang ada di dada dan perut.

Ya semuanya itu ada di dalam tubuh mayat Rafael.

Absurd sekali kan kisah ke dua ini? 😅

Perjumpaan dengan senhora Castro diakhiri saat Maria Castro memasuki tubuh suaminya, sambil mengucap “ini adalah rumah, ini adalah rumah, ini adalah rumah.” (h. 264) dan Dr Eusebio kembali menjahit jenasah Rafael Castro yg kini lebih padat lagi, karena juga berisi sang istri.

Kisah “menuju rumah” diakhiri dengan kejutan, bahwa istri Dr Eusebio sebenarnya sudah meninggal, kemungkinan karena dibunuh (tapi Yan Martel juga mengajak pembaca untuk punya dugaan bahwa sebenarnya Maria bunuh diri) dan menjadi penyebab mengapa Eusebio belum pulang sampai larut malam di hari terakhir bulan Desember. Lalu siapa yg mengetuk dan ber “monolog” tentang Agatha Christie?

*bersambung bagian ke 3 : Rumah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak