Loading...
ngalor-ngidulTulisan-tulisan

The high mountains of Portugal (pegunungan tinggi Portugal)

Saat kematian tiba menyela cinta, merenggut orang terkasih, maka rasa kehilangan yang tak terhingga hadir. Pada akhirnya cinta selalu tiba di ujung yang tidak dikehendaki.

Konflik penerimaan diri atas rasa kehilangan menjadi tema utama dari ketiga kisah yang diceritakan oleh Yann Martel dalam bukunya The high mountains of Portugal (pegunungan tinggi Portugal).

“karena jika semua yang kaucintai dalam kehidupanmu telah diambil,  apakah yang bisa kauperbuat selain mengajukan keberatan?” – (h. 21)

Tomas adalah tokoh sentral pada kisah pertama “Tanpa Rumah”. Jatuh cinta pada pandangan pertama dengan si cantik Dora, yang bekerja sebagai pelayan di rumah pamannya.

Sesuatu yang dahsyat bergelora di dalam dirinya, penghalang berupa kelas, status, segala sesuatu yang mustahil…..lenyap.

Namun sekalipun Tomas memohon agar Dora menerima pinangannya, Dora menolaknya.

“Tidak, kita hanya akan menjadi miskin dan terkucil. Kau tidak tahu rasanya. Aku tahu, dan aku tak mau kau merasakannya.” – (h. 15-16)

Di dalam kebuntuan asmara itulah Gaspar kecil mereka lahir. Pada hari-hari itu mereka seperti pasangan biasa. Dia jatuh cinta dan bahagia.

Namun maut merenggut Dora dan Gaspar. Saat itu Gaspar baru berusia lima tahun, sedangkan Dora dua puluh empat. Selang 5 hari kemudian sang ayah, pria yang membesarkannya, yang mendukung cita-citanya juga meninggal. Tomas mati rasa akibat duka, kehidupannya luluh lantak.

Kehilangan semua yang dicintai dalam kehidupan, menciptakan “ide” yang direalisasi dengan aksi berjalan mundur. Berjalan mundur, memunggungi dunia, memunggungi Tuhan adalah cara Tomas mengajukan keberatan.

Penemuan buku harian Bapa Ulisses “mencerahkan” kesedihan Tomas. Ia akan membalaskan “kejahatan Tuhan” yang telah menghancur leburkan rumah yang pernah ia miliki.

cinta adalah rumah dengan fondasi mantap dan atap kokoh. Dia pernah memiliki rumah seperti itu, hingga akhirnya hancur lebur. Kini tidak ada rumah baginya di mana pun.” – (h. 35)

Dengan meminjam mobil pamannya, Tomas melakukan misi perjalanan untuk menemukan benda ciptaan Bapa Ulisses. Benda itu akan menyukseskan ancamannya. Benda yang akan menjungkirbalikkan agama Kristen.

Benda yang digenggam erat dengan kedua tangan Dora ketika dia tiba di pengunjung nyawanya.

Sebuah perjalanan yang dianggapnya sebagai perlawanan kepada Tuhan.

Dalam amarah yang terwujud dalam sedu sedan, dia menyerah. Seketika itu juga, sebuah tekad – lebih tepatnya, sebuah ancaman-hadir di benaknya. Dia memelototi salib itu dan mendesis, “Kamu! Kamu! Aku akan menghabisimu, tunggu saja!” – (h. 29)

Perjalanan Tomas dengan mobil yang merupakan penemuan baru saat itu diceritakan dengan gaya lucu nan satir. Ditemani buku harian bapa Ulisses, kelucuan berimbang dengan perziarahan bapa Ulisses.

Sang pastor menginjakkan kaki di Sao Tome dalam semangat kecintaan kepada Tuhan untuk melayani kelompok terpapa dari yang papa, para budak. Orang-orang dari kasta terendah.

Namun pada akhirnya pengalaman perjumpaan penderitaan para budak membawa dirinya menggalakkan persamaan hak, melawan otoritas masyarakat dan agama.

“Aku akan bersaksi atas kekejian yang kami perbuat. Betapa kami telah jatuh begitu jauh dari taman surga.” – (h. 142)

Uskup memanggilku hari ini. Kepada beliau kusampaikan bahwa aku mengira akan bertemu dengan orang-orang yang tidak setara dan setelah bertemu dengan mereka, ternyata mereka setara. Kita tidak lebih baik daripada mereka, kataku kepadanya. Bahkan kita lebih buruk….Di matanya aku sudah tidak pantas menjadi pastor. Namun, aku justru merasakan tangan Tuhan merangkulku. – (h. 141)

Mendekati ujang perjalanan, tanpa sengaja Tomas menabrak seorang bocah laki laki hingga mati.

Kematian anak ini kelak akan menjadi penghubung kisah  kedua “menuju rumah”.

Pencarian menemukan akhir saat Tomas memasuki desa bernama Tuizelo. Dalam perjalanan menenangkan diri, tanpa sengaja dia melihat gereja desa. Sebuah bangunan sederhana dari abad ketiga belas. Tatapannya tertuju ke salib. Salib buatan bapa Ulisses. Bukan dalam wujud seorang pria tapi seekor simpanse!

Ilmu pengetahuan telah menunjukkan bagaimana manusia tercipta. Dia menatap kera di salib karya bapa Ulisses. Bukan Tuhan – cuma binatang.

Selesai sudah. Kristus di salib, setelah di pajang dan di kenal luas, akan menista semua orang. Dia membisikkan urusan pribadinya : Nah. Kau telah mengambil anakku, kini aku mengambil anak-Mu. – (h. 165)

— *bersambung kisah kedua “menuju rumah”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak