Loading...
ngalor-ngidul

Sekolah Islam Gender : Keadilan Gender dalam Perspektif Al-Qur’an

Dokementasi saat Enok Ghosiyah menyampaikan materi di SIG

“Seharusnya seseorang yang menyuarakan keadilan gender itu mesti tahu tentang dasarnya terlebih dahulu. Dengan begitu isu ketidakadilan gender akan memulai untuk memandang dari batasan ilmu yang dimiliki seseorang baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada lagi kata ‘diakan seorang perempuan..’ yang akan terucap dari seseorang yang lain karena tidak memandang terlebih dahulu pada kapasitas atau kemampuan kita..” ucap Enok Ghosiyah.

Enok Ghosiyah adalah salah satu pemantik di acara Sekolah Islam Gender yang merupakan rangkaian kaderisasi formal dari KOPRI (Korps PMII Puteri) UIN SMH Banten. Enok sudah menuntaskan S1 di UIN SMH Banten dengan jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, kemudian tengah melanjutkan S2 di PTIQ Jakarta dengan jurusan yang sama.

Dalam waktu kurang dari 2 jam Enok Ghosiyah berbicara tentang perempuan dan Al-Qur’an beserta tafsirnya. Misalnya, kita tidak bisa memakai sebuah tafsir karya seseorang jika kita belum mengetahui kondisi saat beliau membuat tafsir itu. Seperti contohnya Tafsir Al-Kasyaf karangan dari Imam Zamakhsyari yang dengan tegas mengatakan bahwa pemimpin itu harus laki-laki.

Namun setelah ditelusuri biografi dan keadaaan saat beliau membuat tafsir itu ternyata beliau membujang seumur hidupnya. Sebagian waktunya digunakan untuk ilmu dan menyebarluaskan faham yang beliau anut dan sama sekali tidak pernah merasakan bagaimana indahnya bekerjasama dengan perempuan dalam hidupnya. Karena itulah para feminis muslimah tidak bisa menggunakan tafsir karya beliau.

“Sedangkan dalam Al-Qur’an sudah sangat jelas bahwa Al-Qur’an itu ramah gender. Coba kita buktikan satu persatu. Surah kedua adalah Al-Baqarah yang artinya Sapi Betina. Kenapa gak ada Sapi Jantannya? Yang kedua, Surah Maryam. Wanita yang tidak memiliki suami tapi justru namanya dijadikan surah dalam Al-Qur’an. Ada lagi An-Nisa. Kenapa gak ada Ar-Rijal?” ucap Enok Ghosyiah memaparkan bukti sederhananya pada Al-Qur’an

Terkadang kita harus mengerti kenapa Tafsir Abi Quraish Shihab membolehkan perempuan muslimah tidak memakali jilbab. Itu semua karena tafsir beliau tidak hanya dipakai untuk warga negara Indonesia saja. Banyak juga warga negara luar seperti Belanda, Italia dan yang lainnya melarang keras wanita muslimah untuk menggunakan jilbab di ruang publik. Tafsir ayat Al-Qur’an tidak bisa dibuat hanya untuk negara dimana penulis berpijak, tafsir semestinya ditulis untuk khalayak umum di seluruh belahan dunia.

Kini setelah mengetahui banyaknya suara atas kasus ketidakadilan gender di dunia ini akhirnya muncul berbagai macam jenis feminisme. Ada feminis barat, feminis amazon, feminis liberal, feminis sosialis, dan feminis radikal. Namun pemahaman yang biasa dianut oleh kalangan para aktivis PMII dan KOPRI ini adalah Wasathiyah atau biasa disebut moderat, dan tengah-tengah. Menerima pemahaman kiri dan kanan namun, tidak sertamerta menerima dengan keadaan mentah.

“Sekarang sudah banyak gerakan feminis sosialis dimana-mana. Cobalah para kader KOPRI membuat gerakan yang berbeda. Gerakan feminis yang tetap pada jalur sumber hukum umat muslim, yaitu Al-Qur’an dan Hadis..” ucap Enok Ghosiyah untuk membakar semangat para kadernya.

Memang jika dirasa, sudah mulai banyak aktivis feminis yang sangat menginginkan bukti tafsir agama yang adil gender, khususnya dari agama mayoritas di Indonesia ini; Islam. Menurut sebagian dari aktivis tersebut jika Islam (yang mayoritas ini) bisa membuat perubahan baru pada tradisi atau adat yang mengakar pada sistem patriarki menjadi adil gender mungkin saja para aktivis gender ini sudah bisa bernafas lega.

Kembali lagi mengingat perkataan Enok Ghosiyah di awal, seandainya saja pendidikan bisa menjadi tolak ukur dalam menentukan sudut pandang gender. Mungkin saja akan lebih banyak lagi orang-orang yang mulai mengasah kemampuannya dengan berbagai macam ilmu yang mereka minati. Dengan begitu gender tidak lagi memandang secara biologis maupun reproduksi dari perempuan maupun laki-laki, tapi memandang banyaknya pengalaman atau keilmuan yang dimilikinya.

Semoga masih banyak manusia yang terus mengasah ilmunya tanpa merasa lelah, kemudian dihargai oleh lingkungannya dengan mendapatkan hak yang seharusnya diberikan kepada mereka.

*Artikel ini adalah buah ide Atin Riyani, Koordinator Women March Serang. Untuk melihat artikel lain dari Atin Riyani klik disini, atau artikel lain tentang Kesetaraan Gender.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak