Loading...
ngalor-ngidulTulisan-tulisan

“Beta Mau Jumpa” dan Upaya Rekonsiliasi Paska Konflik Ambon

“Saya tidak akan membedah melalui perspektif hukum walaupun saya belajar hukum cukup lama, tapi saya salah satu orang yang tidak percaya hukum bisa menyelesaikan persoalan di negeri ini. Selama model penegakan hukum yang berlaku di negari ini dan di berbagai negeri masih bercorak Retributif Justice,”

Kang Alyth Prakasa, Salah satu pemateri dalam bedah film “Beta Mau Jumpa” membuka diskusi malam di Padepokan dengan sangat apik. Film “Beta Mau Jumpa” sendiri adalah film dokumenter yang menceritakan tentang upaya rekonsiliasi dan trauma healing paska Konflik Berdarah di Ambon tahun 1999-2002.

Dalam waktu kurang lebih setengah jam, “Beta Mau Jumpa” menyajikan betapa Konflik Ambon yang dipicu pertama kali oleh hal yang sangat sepele bisa berubah menjadi konflik yang sangat berdarah dan berkepanjangan. Ribuan nyawa bahkan menjadi korban dalam Konflik Ambon tersebut. Tentu ribuan keluarga dan sanak saudara juga terpisah akibat konflik tersebut.

Segregasi menjadi hal yang sangat nyata terjadi dalam kurun waktu konflik tersebut berlangsung. Sialnya, segregasi tersebut terus berlangsung hingga paska konflik Ambon berakhir. Salah satu tokoh dalam film tersebut yakni Cherly Caroline Laisina, atau Ote Patty menceritakan betapa dia harus berpisah dengan sanak saudara dan tetangganya di Batu Merah akibat Konflik Ambon.

Kini, jauh setelah Konflik Ambon berakhir, Ote mencoba kembali menjenguk sanak saudara sembari merintis jalan rekonsiliasi dan rehabilitasi paska konflik Ambon. Ia mencoba berkunjung kembali ke sanak saudaranya di Batu Merah ditengah ketakutan dan trauma orang-orang Ambon lainnya.

Alyth Prakasa sedang memaparkan diskusi dari sisi HAM.

“Saya tanya ke mereka, mau tidak kita berlebaran di Batu Merah, mereka bilang,’Uuh, Mati!’,” kata Ote.

Begitu kira-kira ketakutan orang-orang yang digambarkan oleh Ote dalam “Beta Mau Jumpa”. Padahal pada tahun-tahun sebelum konflik, Ote yang Katholik biasa merayakan lebaran bersama sanak-saudara dan tetangga-tetangganya yang muslim di Batu Merah. Begitupun ketika perayaan Natal dan Tahun Baru.

Tapi Konflik Ambon seperti menjadi mimpi buruk bagi masyarakat Ambon. Hal itulah yang mendorong Ote untuk mencari penyelesaian terhadap adanya segregasi dampak paska konflik. Ote tidak sendiri, ada juga Pdt Margaretha Hendriks-Ririmasse dari Gerakan Perempuan Peduli.

Selama konflik berlangsung, Margaretha mencoba meredam konflik melalui aksi yang digelar oleh para perempuan. Ia mencoba menyadarkan pihak yang bertengkar untuk kembali berdamai dan menghentikan konflik melalui jalan yang lebih beradab.

Suasana Diskusi Film “Beta Mau Jumpa”

“Kita mau duduk bersama dan tunjukkan pada bapak-bapak yang sedang marah-marah ini, bahwa kita bisa menyesaikan dan menjembatani kesenjanga-kesenjangan yang ada ini,” kata Margaretha.

Selain dua perempuan yang mencoba meretas jalan rekonsiliasi, “Beta Mau Jumpa” menunjukkan bahwa peran kaum muda juga penting dalam mendorong proses rekonsialiasi paska konflik Ambon tersebut. Misalnya para pemuda yang menggelar Forum Jalan Merawat Perdamaian (JMP) yang terispirasi dari ikon Ambon yakni Jembatan Merah Putih (JMP).

Langkah rekonsiliasi juga dirintis melalui jalur kolaborasi musik Hadrah (rebana) dan terompet. Kedua alat musik inji merupakan simbolisasi dari dua kepercayaan yang dipercaya menjadi sumber konflik yakni Islam dan Kristen.

Pada akhirnya “Beta Mau Jumpa” menunjukkan bahwa upaya-upaya rekonsiliasi ini hadir dari dalam diri masyarakat Ambon sendiri. Upaya penyelesaian konflik yang dilakukan oleh pemerintah di masa lalu, justru menimbulkan adanya segregasi antar masyarakat Ambon. Hal inilah yang kemudian menjadikan Kang Alyth percaya bahwa hukum di Indonesia belum mampu menyelesaikan konflik seperti yang terjadi di Ambon.

Kang Alyth juga mencoba mengurai akar konflik yang bukan terutama sekali tentang Agama, tapi justru dipicu oleh Adanya Kesenjangan Kelas Sosial sesuai dengan teori konflik Karl Mark. Dalam film “Beta Mau Jumpa” digambarkan dengan awal pemicu konflik yakni pertengkaran pemuda antar sopir angkot.

“Orang Ambon sendiri menggambarkan bahwa Ambon itu dikuasai oleh kelompok BBM atau Bugis, Bone, Makassar. Keadaan menjadi semakin runcing ketika yang dikirim untuk menyelesaikan konflik adalah Orang Ambon yang dari Jakarta,” kata Kang Alyth.

Keadaan ini juga digambarkan oleh Ote sebagai kegagalan negara dalam mengatasi Konflik. Ia mengatakan bahwa negara lebih konsen menyelesaikan konflik melalui pembanguna-pembangunan fisik seperti gereja dan masjid, tanpa menyentuh aspek manusia sebagai korban yang nyata.

“Mereka lupa bahwa yang paling penting adalah trauma healing pada masyarakat paska konflik Ambon,” kata Ote.

Adat-istiadat dan nilai-nilai lokal, menurut Kang Alyth juga menjadi aspek penting yang bisa menyelesaikan konflik. Falsafah lokal seperti “Pela Gandong”, “Alie rasa beta rasa”, “Iris kuku terasa daging”, menurut Kang Alyth juga seharusnya menjadi jalan rekonsiliasi. Namun dirinya menyayangkan luputnya penggambaran nilai-nilai tersebut dalam “Beta Mau Jumpa”.

Film “Beta Mau Jumpa” garapan bersama antara Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) Sekolah Pascasarjana UGM, The Pardee School of Global Studies Boston University, dan  WatchdoC Documentary akhirnya memberikan penjelasan dampak nyata segregasi paska Konflik. Maka jangan sampai konflik serupa terjadi di daerah lain di negeri ini. Jikalaupun terjadi, maka penyelesaian yang paling tepat seharusnya memang lahir dari dalam diri masyarakat sendiri.

Penulis: Imam B Carito

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak