Loading...
Gambar-gambarngetan-ngulon

PULAU LOMBOK YANG AYU: CINTA PERTAMAKU PADA LOKASI PELANCONGAN

Saya tidak ahli dalam menyimpan data-data pelancongan. Diantara sisa-sisa data tahun 2016 yang masih ada: Pelancong di Gili Beleq, Lombok Timur.

Mengunjungi Pulau Lombok selalu mengasikkan, seperti menemui kekasih. Di Pulau Lombok, saya merasakan jatuh cinta pada lokasi penelitian dan mendapatkan bagaimana pola bisa jatuh cinta pada lokasi penelitian. Pada kunjungan ke sekian di Pulau Lombok tanggal 26-30 Juni 2016, saya membuat catatan lapangan dan dokumentasi gambar.

Catatan lapangan

27 Juni 2016

Perjalanan ke pulau kecil di Lombok timur diawali mengerjakan sedikit tugas di bandara. Kedatangan awal di bandara, dengan harapan ada briefing riset dengan tim rupanya tidak terjadi. Malahan tak ada waktu banyak untuk membicarakan hal-hal teknis. Biarkanlah.

Perjalanan cukup lancar, buka puasa di angkasa di atas pulau bali.

Seperti belum pernah ke Lombok, aku menginjak kaki Lombok bukan di bandara selaparang, tetapi bandara di Lombok tengah. Jam yang kubayangkan sibuk, seperti pemandangan di bandara tangerang, rupanya tidak. Hanya ada dua pesawat kecil, dan pesawat 1 pesawat komersil berwarna merah. Menunggu bagasi, yang bukan miliku pun jadinya tak lama. Bahkan kopi secangkir, yang aku pesankan dari bandara pun tidak sampai habis. Terang saja, karena tak setetes pun kuminum. Masuk bandara berdua di tangerang, keluar bandara Lombok tengah berempat. Di pintu keluar, penjaja pariwisata menawarkan beragam tawaran paket. Beberapa brosur kuambil. Belum selesai penjaja pariwisata, berjejer pedagang kartu perdana berbagi operatir, disusul kemudian penjaja kendaraan. Nampak kurang teratur. Dan yang paling tidak teratur adalah penjemput penumpang. Barisan mereka seperti penonton konser, ataupun barisan fans menunggu idolanya. Pemandangan yang jarang kusaksikan. Ketidakteraturan sopir penjaja mobilnya pernah ditertibkan oleh pengelola bandara, namun tidak berhasil. Bahkan beberapa waktu berlalu, terjadi keributan antara sopir dengan aparat keamanan (tentara) yang disewa mengamankan bandara. Keributan pernah menjadi hening, saat senapan berpeluru ditembakkan di angkasa. Meski peluru melayang di angaksa, dan bunyinya menakutkan banyak orang, ketertiban tetap tidak terwujud di pintu penyambutan bandara. Mungkin beginilah tahapan masyarakat di sini. Konon, bandara merupakan satu tempat modern yang ada di lingkungan mereka. Hal ini bisa dipahami bahwa bagi mereka pergi ke bandara merupakan kegiatan relaksasi setelah bergelut dengan alam, yang sebenarnya alam mereka sedang diminati banyak turist.

Dari bandara menuju hotel, pemandangan yang biasa. Jalanan sepi, beberapa ruas rusak dan sedang diperbaiki. Kata penjemput, sebagian ruas jalan juga tak aman. Beberapa kali terjadi peristiwa penodongan. Di jalanan masjid tidak terdengar suara, karena orang sedang melakukan sholat. Sebagian masih penuh jamaah, sebaian sudah sepi. Hampir dua jam perjalanan, sampai di Mataram. Mencari makanan khas bertemulah ayam taliwang. lapar menambah rasa enak makanan yang bagi lidah tidak lagi asing.

Dan hotel santika menjadi tempat istirahat. Ups, tempat kerja. Sampai jam 5 baru bisa lelap.

tulisan ini didapat dari https://alunalun.id

Penulis : Afrizal Hidayatulloh
Editor :  Radjimo S Wijono
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak