Loading...
ngetan-ngulon

DARI SLAWI KE SERANG: PERJALANAN MALAM YANG AMAN-AMAN SAJA

Belum puas menikmati eksotisme pertanian rempah di lembah Gunung Slamet, saya harus segera kembali ke Banten. Malam itu saya harus bergegas menuju Serang, karena beberapa urusan yang harus saya hadiri. Atas rekomendasi beberapa orang yang saya kenal, saya memilih bus Sinar Jaya.

Saya dan dua teman yang akan menjalani perjalanan ke arah barat datang di Terminal Slawi setengah jam sebelum bus yang saya tumpangi jalan. Di terminal yang penerangannya temaram, saya tidak begitu menghiraukan tawaran beberapa awak bus. Saya langsung menuju loket tiket Sinar Jaya, dan teman saya yang memesan menyodorkan beberapa lembar uang Rp 50.000 kepada penjaga tiket. Tiga tiket yang kami pesan harus kami bayar sebanyak lima lembar uang Rp 50.000, dengan kembalian Rp 40.000.

Di dalam bus, dengan formasi 2-3 kursi, kami mendapat pilihan duduk paling belakang. Hanya tersisa empat kursi ketika kami mendatangi loket. Tak lama kami menaruh tas ransel, datang penumpang terakhir. Jadwal yang mestinya berangkat jam 19.30, menjadi lebih cepat beberapa menit dengan penumpang yang penuh. Duduk di kursi yang diisi tiga penumpang persis di atas roda bus, saya melihat-lihat beberapa saat situasi dan kondisi bus, serta berbasa-basi dengan penumpang sebelah.

Sesaat merasa agak aman dengan sikon, saya memastikan keamanan perjalanan dengan menanyai penumpang sebelah. Rupanya, ia penumpang yang rutin sepekan sekali menjalani perjalanan Jakarta-Slawi. Dalam saling sapa kami, ia bercerita tentang pengalaman paling tidak mengenakan menjadi penumpang malam. Tidak menyebutkan kapan dan dimana, ia dengan agak kesal menceritakan pengalamannya itu. Perjalanan yang sering dilakoni dalam kondisi letih dan ngantuk, ia sering tertidur. Dalam satu perjalanan tidurnya itu, kepalanya tersandar penumpang perempuan di sampingnya. Tidur pulasnya terganggu, karena protes keras penumpang perempuan di sampingnya. Saya ikut mengiyakan ketika ia menyatakan bahwa dalam tidur tidak ada kesadaran, dan bisa jadi kepalanya tersandar di bahu penumpang sebelah. Tapi saya tidak mengiyakan ketika ia menggerutu dan tidak terima atas protes keras yang dilayangkan padanya oleh penumpang sebelahnya. Tentu saja bentuk ketidaksetujuan saya sampaikan dalam bentuk non verbal, untuk menjaga perasaan orang yang saya kenal dan rasa aman antarsesama penumpang.

Informasi paling saya perlukan dalam saling sapa antarpenumpang malam itu adalah jam berapa akan sampai ke tujuan, Terminal Kalideres, Jakarta Barat. Jawabannya memperlihatkan ia berpengalaman dengan perjalanan malam. Paling tidak dua kali saya bertanya, jam berapa sampai ke terminal akhir. Dengan menjelaskan beberapa faktor lancar-tidaknya perjalanan ia menjawab kisaran jam dua pagi, dan paling telat usai subuh tiba. Informasi yang menjadikan saya merasa lebih aman dalam perjalanan malam itu.

Meski sadar dalam tidur ayam, saya tak menghitung berapa kali bus ini keluar-masuk tol, dan berhenti di pool miliknya. Yang paling saya ingat, bus berhenti di Pool Bus Cibitung, Bekasi dan jam di bus menunjukkan pukul 01.39.

Tak lama berhenti di Bekasi, karena hanya menurunkan sebagian besar penumpang,  bus melaju lagi. Saya pindah di kursi bagian depan yang telah kosong, dan bisa tertidur sesaat. Saya terbangun ketika bus melaju lebih lamban, Grogol. Memasuki jalan Daan Mogot bus melambat, dan sampai di Terminal Kalideres pukul 02.40. Semua penumpang turun.

Saya turun dan berjalan menuju deretan bus jurusan Merak/Labuan. Dua bus di urutan paling depan berwarna hijau dan kuning. Awak bus Asli Prima menawarkan armadanya, tapi kujawab nanti saja naiknya. Saya berpikir, mana bus yang jalan duluan akan saya tumpangi. Saya menunggu di dekat bus, sambil melihat situasi terminal. Jam tiga kurang, lalu-lalang bus dalam dan luar kota sudah ramai. Angkat Serpong-Kalideres yang paling terlihat lalu-lalang. Sementara minibus jurusan Kalideres-Senin bergantian keluar terminal, meski tak ada penumpang dalam bus. Posisi saya berdiri persis samping barisan bus Senin-Kalideres itu. Posisi ini kurang lebih 10 meter dari bus yang akan saya tumpangi. Pukul tiga lebih beberapa menit, bus Asli Prima bergerak maju, saya pun mengikuti dan menaikinya.

Bus mengawali perjalanan ke arah Banten bagian selatan dengan lambat. Kecepatan pelan ini tujuannya, mencari penumpang di pinggir jalan. Strategi ini terbukti manjur, beberapa penumpang naik ke bus, baik dari halte maupun pinggir jalan yang cahaya terlihat lebih terang. Diantara penumpang yang naik adalah pengamen dan pedagang asongan.

Saya mengetahui profesi mereka karena duduk di bangku paling belakang. Duduk di posisi ini sering menguntungkan dalam perjalanan menuju Serang-Banten. Berulang kali saya bisa melihat banyak kejadian dari posisi ini, termasuk pagi dini hari itu. Keuntungan utama yang saya rasakan, seolah dianggap sebagai penumpang langganan. Dengan dianggap penumpang langganan, saya bisa memberikan ongkos tanpa diminta tambah oleh kondektur bus.  Biasanya, saya melipat uang untuk ongkos bayar, dan uang yang dilipat ini seolah tanda penumpang langganan yang sudah tahu ongkos yang harus dibayar. Sudah umum, tarif bus dari Labuan ke Kalideres dan sebaliknya tidak tetap. Faktor penyebabnya, bisa siapa penumpangnya dan atau waktu libur atau hari kerja. Dan pagi itu, saya mendapati keuntungan dengan tidak beradu argumen dengan kondektur, setelah uang Rp 20.000 saya lipat. Keuntungan ini tidak dapati penumpang sebelah saya. Ia menyodorkan beberapa lembar uang yang tidak dilipat berjumlah 20.000, dan diminta tambah 5.000 lagi oleh kondektur. Ada adu argumen antara kondektur dan penumpang, dan sepertinya penumpang yang menang.

Keuntungan lainnya, saya bisa melihat respons awak bus terhadap penumpangnya. Di pintu belakang ini, saya bisa melihat koordinasi antara dua awak bus di bagian pintu. Ketika dua awak bus yang bertugas sebagai pencari penumpang dan awak yang bertugas sebagai kasir bertemu, sering berkomentar tentang para penumpangnya. Pagi dini hari itu beberapa kali dua awak bus saling bertemu, dan salah satu pertemuannya ketika pedagang asongan menawarkan dagangannya. Saya lihat, mereka sudah saling kenal. Dengan berbahasa Sunda, mereka bertransaksi. Awak bus pencari penumpang (kernet) membeli sebotol minuman dan sebungkus rokok. Kedua barang yang jadi komoditi utama pedagang asongan tersebut langsung dinikmati oleh si kernet. Sementara itu, awak bus lainnya (kondektur), membayar dua barang itu serta membeli sebungkus rokok.

Kedua awak bus ramah pada pedagang asongan, tapi acuh tak acuh terhadap pengamen. Ketika pengamen masuk, menjalankan aksinya, dan turun, kedua awak bus tak memberikan sapaan apa pun. Pengamen yang menjajagakan aksinya tersebut tidak menyanyi, seperti pada umumnya. Ia membawakan aksi tunggal dengan berorasi, menjual cerita. Oleh karena aksinya berada di bagian depan, dan pintu bus masih belum ditutup yang membawa suara angin masuk dalam bus, saya tidak mendengar betul apa yang ia bicarakan. Lelaki muda berbadan kerempeng tersebut tak lama beraksi, dan sepertinya tidak banyak menerima apresiasi (uang receh) dari penumpang. Ia bergegas turun, yang saya duga ia turun dengan kecewa.

Seolah berburu orang dari Kalideres sampai Kebon Nanas, pintu bus dibuka. Setelah melewati Kebon Nanas, Tangerang, pintu bus ditutup. Ditutupnya pintu bus, seolah menandai perburuan orang selesai, dan perjalanan bus menjadi lebih cepat, apalagi memasuki jalan bebas hambatan Jakarta-Merak. Memasuki jalan tol, bus melaju kencang. Pagi dini hari yang tidak terlalu banyak kendaraan di jalan tol tersebut, bus seolah tak terhambat. Sampai di pintu tol Serang Timur jam di handphone menunjuk 04.16.

Saya merasakan perjalanan malam ini seolah seperti perjalanan di siang hari. Sama dalam rasa aman, dan yang membedakan adalah waktu tempuh yang lebiih cepat.

Penulis: r. Sastro Wijono

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak