Loading...
ngetan-ngulonTulisan-tulisan

PIALA ITU BERNAMA, WALIKOTA SERANG CUP

Setelah meneguk minuman segar, saya memasuki Stadion Maulana Yusuf Ciceri. Saya berusaha mencari info lebih detail informasi yang disampaikan penjual air minum kemasan tadi, sebelum menonton pertandingan. Di tembok depan teras stadion saya liat dua baliho berukuran besar. Saya lebih fokus melihat baliho yang terpasang di atas.

Baliho tersebut terdapat dua gambar orang, yang nama dan jabatannya tertulis di bawahnya. Orang pertama, Walikota Serang Tubagus Hairul Jaman, dan orang kedua Ketua PSSI Askot Serang Zeka Bachdi. Saya kira dua orang penting inilah penyelenggaraan turnamen ini dapat terselenggara. Tentu saja dibantu panitia pelaksana, yang dalam pertandingan kemarin saya lihat begitu baik menggelar sebuah pertandingan.

Informasi lain tentang perhelatan ini saya dapatkan dari Ketua Panitia Pak Aris. “Piala Walikota Serang sudah diselenggarakan dua kali. Yang pertama tahun kemarin,” begitu jawaban yang saya terima lewat pesan singkatnya.
“Turnamen untuk mencari bibit-bibit atlit sepakbola di Kota Serang ini dinamai Walikota Cup agar peserta turnamen ini punya semangat lebih dalam berpartisipasi, ” katanya lebih lanjut.

Benar juga mungkin kata ketua panitia: turnamen olahraga memperebutkan piala kepala daerah akan memiliki semangat lebih bagi peserta. Dan yang saya liat, semangat parapemain bermain begitu giatnya dalam pertandingan yang sekali saya tonton.

Senada pernyataan Ketua Panitia, pada reportase media online Ketua PSSI Kota Serang mengatakan, “Tahun 2017 ini, Asosiasi Kota (Askot) PSSI Kota Serang terus fokus melakukan pembinaan berjenjang. Yang terbaru, mereka mengagendakan kompetisi sepak bola bertajuk Piala Walikota Serang tahun 2017 yang berlangsung mulai 15 November sampai 10 Desember mendatang, di Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Kota Serang (www.radarbanten.co.id, 12112017).

Lebih lanjut, berita di media online yang juga menerbitkan harian cetak itu menuliskan, “Ketua Askot PSSI Kota Serang, Zeka Bachdi mengatakan, kompetisi ini diselenggarakan untuk mencari bibit bibit pesepak bola andal di Kota Serang dan mengevaluasi pembinaan yang selama ini dilakukan para anggota Askot PSSI Kota Serang.

Makanya kami gelar dan agar ajang ini bergengsi, memperebutkan Piala Walikota Serang,” papar Zeka pada tulisan media terbesar di Banten ini.

Sebelum menutup beritanya, media daring tersebut menambahkan, “Disinggung soal peserta, pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II KONI Kota Serang itu mengungkapkan, ada sekitar 16 Sekolah Sepak Bola (SSB) yang siap ambil bagian. Diantaranya adalah SSB Singandaru, Serang Pratama, Blaster, Tunas Banten, Mandiri United, Top Ten, Perkasa.”

(Menurut seorang penonton, peserta lainnya: Bintang Muda, Bintang Utama Peruzi, BISA, KSBS, Pegasus, Putra Baladika, Sabar Utama, Satria Muda, Serang Raya)

Dan berita yang satu-satunya memuat informasi perhelatan turnamen antar SSB U-20 di akhir tahun di ibukota Provinsi Banten tersebut dengan menulis ekspektasi Ketua Askot Serang, “Semoga ajang ini bisa berjalan maksimal dan sesuai harapan bersama.”

Saya mengamini harapan ketua asosiasi sepakbola tertinggi di Kota Serang tersebut, meski saya warga Cilegon. Pada pelaksanaan pertandingan, seorang official peserta yang saya temui mengeluhkan kinerja panitia yang sering tidak tepat waktu dan dipersingkatnya waktu pertandingan. Selain itu, official yang akan mendampingi timnya di final juga mengeluhkan, kepemimpinan wasit sering menganggu jalannya pertandingan. Untuk keluhan pertama, saya bisa mengatakan keterlambatan pertandingan bukan seutuhnya salah panitia, tetapi kebanyakan dari peserta yang datang terlambat di arena laga. Seperti pertandingan yang saya saksikan di partai semifinal kedua. Dengan keterlambatan peserta, otomatis jatah waktu bermain jadi terbatas. Untuk keluhan tentang wasit, saya tidak bisa berkomentar lebih jauh, karena selain kurang begitu tahu tentang aturan sepakbola, saya juga hanya melihat sekali dalam perhelatan ini. Keluhan kedua ini, bisa saya katakan keluar dari pihak yang timnya dirugikan wasit. Pada pertandingan yang saya liat antara SSB TOPTEN VS SSB PUTRA BALADIKA, saya kira keputusan yang dibuat tim pengadil pertandingan cukup fair untuk menegakkan rule of the game sepakbola.

Saya menduga, bila turnamen ini diikuti oleh 16 tim, dan hanya dua tim yang masuk final tentu banyak keluhan yang dialamatkan pada panitia maupun wasit. Bila satu tim semisal mengeluhkan dua soal, tentu akan ada 32 soal yang perlu direspons oleh panitia dan wasit. Betapa banyak soal yang muncul dari sebuah turnamen, dan betapa berat tugas panitia dan wasit dalam mewujudkan ekspektasi Ketua PSSI Kota Serang. Dugaan saya rupanya tidak benar. Pengurus PSSI Bidang Kompetisi Pak Yayat yang tiap pertandingan memantau mengatakan, “Sudah sesuai aturan dan kesepakatan dengan tim yang bertanding.” Dari pernyataan lewat pesan singkat pengurus PSSI Kota Serang tersebut dapat saya simpulkan, pertandingan resmi bergengsi dalam rangka pembinaan di ibukota Provinsi Banten berjalan baik dan telah menegakkan rule of the game football. Dengan demikian, semua yang terlibat dalam turnamen ini telah menunjukkan keseriusan dan profesionalitas, sehingga harapan awal dapat terwujud.

Piala Walikota Serang menjadikan saya lebih tahu arti sebuah tropi penghargaan. Di balik kilau piala, terdapat pengorbanan maupun usaha yang keras dan kerjasama dari semua pihak demi suksesnya sebuah turnamen. Saya masih penasaran dengan turnamen ini, seperti apa rupa piala yang disediakan oleh walikota. Dan rasa penasaran ini akan saya hilangkan dengan menonton pertandingan final, yang akan mempertemukan SSB SINGANDARU VS SSB TOPTEN. Ayo raih piala, dengan fair dan sportif!

tulisan ini didapat dari https://alunalun.id

Penulis : Afrizal Hidayatulloh
Editor :  Radjimo S Wijono
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak