Loading...
ngetan-ngulonTulisan-tulisan

MENIKMATI ATMOSFIR PERTANDINGAN SEPAKBOLA

Setelah hampir sehari mengurus pajak, dan belum beres, saya memutuskan tidak langsung kembali ke Cilegon. Sebetulnya, saya ingin beristirahat di rumah, tetapi ada dorongan untuk pergi ke Stadion Maulana Yusuf, Ciceri, Kota Serang.

Melepas lelah sembari meneguk minuman segar, begitu saya membayangkan setiba di stadion yang selalu ramai di sore hari. Namun belum habis minuman yang saya pesan, pedagang minuman memberitahukan bahwa sore ini ada pertandingan sepakbola. Saya berpikir untuk menyaksikan, dengan menanyakan acara apa pertandingan nanti sore dan siapa yang bertanding?

“Turnamen Piala Walikota Serang, yang sudah memasuki babak semifinal. Dan yang main Putra Baladika lawan Topten,” jawab pedagang minuman berbaju biru itu. Mendengar jawabannya, saya bergegas memasuki stadion yang tidak memungut tiket untuk pertandingan ini.

Di dalam stadion, saya melihat beberapa orang sedang menyiapkan pertandingan. Meski tidak familier dengan helatan pertandingan sepakbola, saya menduga mereka adalah panitia pertandingan. Dua orang duduk menghadap ke lapangan, dan dua lainnya berdiri sambil mengobrol. Saya menguping apa yang mereka bicarakan. Diantara obrolan empat orang tersebut yaitu, SSB TOPTEN merupakan tim kejutan, yang bisa masuk semifinal. Sedangkan lawannya, SSB Putra Baladika, merupakan tim yang punya prestasi di Kota Serang.

Setelah menguping pembicaraan panitia, saya menuju banch tim Topten. Saya melihat persiapan tim sebelum bertanding. Ekspresi para pemain, yang di bawah umur duapuluhan itu, saya lihat beragam. Ada yang tenang, ada yang terlihat panik, ada yang diam, ada yang mondar-mandir, ada pula yang langsung mengganti kostum. Begitu juga ekspresi para official timnya, tak sama.

Parapemain mengganti kostumnya, dan mereka memasuki lapangan. Tidak ada yang memegang bola. Mereka yang berkostum biru-biru-hitam tersebut melakukan gerakan yang sama. Mereka lari-lari pendek, sambil melakukan gerakan bergantian: kanan-kiri, dan seterusnya. Dalam hitungan menit, parapemain berjalan ke banch, untuk minum. Air minum yang mereka teguk tidak banyak, mereka kembali ke lapangan. Kali ini dengan membawa bola ke pinggir lapangan. Ada tiga bola, dan para pemain yang berjumlah 15 tersebut dibagi menjadi tiga, dengan jumlah yang tak sama. Ketiga kelompok melakukan gerakan berbeda, ada yang pelan-pelan, ada yang cepat-cepat, dan ada yang melempar-lempar bola ke atas. Pembagian tiga kelompok itu pun tak berlangsung lama. Dalam hitungan menit, parapemain berkostum biru itu berjalan ke pinggir lapangan. Kali ini mereka ada yang duduk dan berdiri, sambil meneguk minuman botolan. Posisi yang terpisah-pisah, kemudian dirapikan dalam kalangan dimana dua orang menjadi pusat perhatian parapemain. Papan yang bertuliskan komposisi pemain dibacakan dan dijelaskan kepada parapemain. Semua seolah setuju dengan penjelasan pelatih. Semua pemain nampak seksama dan serius, dan diakhir pengarahan parapemain membalas yel-yel dengan tepuk tangan dan teriakan. Baru saya tahu, sibuk dan rumit juga persiapan sebuah tim untuk menyiapkan pertandingan.

Peluit ditiup oleh salah satu dari tiga orang yang memakai kostum hitam. Saya tidak tahu apa artinya tiupan tersebut. Baru saya tahu, setelah para pemain kedua tim berhenti pemanasan dan pelatih berhenti memberikan arahan. Rupanya, tiupan tersebut merupakan panggilan bagi kedua tim untuk memulai pertandingan. Tim berkostum biru yang pertama berbaris rapi di samping tiga orang wasit. Mereka bersalaman, sampai salaman antarwasit dan pemain berkostum biru selesai, tim berkostum merah putih belum mendatangi barisan wasit. Dalam hitungan menit kemudian, tiga wasit sudah didampingi dua tim yang akan bertanding. Setelah itu, mereka memberi hormat pada penonton.

Usai memberi hormat pada penonton, satu orang pemain dari kedua tim dipanggil wasit. Mereka saling bersalaman dan membicarakan sesuatu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya membicarakan pilihan tempat atau bola. Benar dugaanku, perwakilan tim keduanya memberikan tanda pada pada pemain lainnya sambil me

Mas Jimo Semesta, [11.07.19 16:53]
ngambil posisi tim. Saya ikut mendokumentasikan moment sebelum pertandingan ini dimulai.

Jam menunjukkan pukul tiga lebih empatpuluh sekian, dan tim biru yang memulai menendang bola setelah wasit meniup peluit dengan kencangnya.

Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan pertandingan ini dengan detail. Di awal babak pertama ini, yang saya lihat parapemain SSB Topten ditekan. Namun tidak ada peluang yang membahayakan. Sekali bola masuk ke gawang Topten, saat kiper tidak berhasil menangkap dengan baik. Akan tetapi goal yang tercipta tidak dihitung, karena hakim garis mengangkat bendera sebagai tanda bola sudah keluar sebelum bola masuk ke gawang. Setelah hampir 10 menit ditekan, kesebelasan Topten berhasil melepaskan tekanan. Menit-menit selanjutnya, serangan silih berganti. Beberapa peluang tercipta. Sayangnya saya tidak mencatat berapa jumlahnya, yang pasti serangan membahayakan lebih banyak dilakukan oleh tim Topten. Dari salah satu tendangan bebas, tendangan rebound bahkan sempat mengenai mistar gawang. Pertandingan menarik, yang berhasil melupakan masalah di kantor pajak tadi siang.

Di jeda babak ke dua, saya melihat apa yang dilakukan selama persiapan tim sebelum pertandingan seperti diulang. Parapemain duduk sambil menambah asupan gizi, dan pada cadangan bermain-main bola di tengah lapangan.
Jeda ini berlangsung hampir 15 menit. Dan tiupan wasit, seolah memanggil kedua tim untuk memasuki lapangan kembali.

Pertandingan babak kedua dimulai. Kali ini tim Putra Baladika yang memulai menendang.

Seolah tidak ada jeda, pertandingan kembali memasuki intensitas tinggi. Keduanya saling menyerang. Dan, dari peluang yang ada, SSB Topten yang mendapat kesempatan membobol gawang. Berawal dari serangan balik, bola diterima pemain bernomer 17. Saat bola dikuasai pemain nomer 17, jumlah pemain biru justru lebih banyak di area pertahanan merah-putih. Dengan jeli, bola digocek ke arah gawang pemain nomer 17. Di sebuah titik, bola dia tendang dan masuk di sisi kanan gawang kiper berkostum oranye itu. Suasana menjadi berubah di stadion. Saya tidak tahu berapa jumlah penonton, tapi suara penonton cukup membuat gaduh stadion. Dan goal yang tercipta membuat tim topten unggul, serta membuat sumringah orang-orang yang berada di banch yang didominasi warna biru itu.

Pertandingan menjadi lebih menarik setelah goal tercipta. Apalagi, 10 menitan kemudian gantian gawang Topten yang kemasukan. Bertubi-tubi diserang, membuat pelanggaran ringan di sekitar gawang terjadi, dan wasit memutuskan pinalti. Sebuah tendangan hukuman 12 meter pas dengan keras, yang tidak bisa ditangkap kiper, telah membuat jaring gawang bergetar. Goal, kedudukan 1-1. Posisi draw, serang-menyerang kembali terjadi, namun fisik para pemain yang menurun menjadikan beberapa insiden terjadi: pelanggaran keras yang menjadikan pemain cidera. Tak jarang membuat wasit mengeluarkan kartu kuning. Entah berapa kartu keluar dari kantong wasit sampai peluit panjang tertiup. Babak kedua usai, dan berlanjut ke babak pinalti.

Tidak beristirahat lama, panitia menyodorkan kertas untuk menuliskan lima penendang. Saya mengintip tulisan di kertas itu, dan yang saya ingat kelima pendenang pilihan pelatih berambut gondrong itu: Yunus, Ilham, Epi, Opik, dan Kiki. Saya kira, kedua tim akan tidak nyaman dalam situasi ini. Saya melangkah ke gawang, tempat lokasi eksekusi pinalti. Dari lima tendangan, tiga tendangan dari Putra Baladika berhasil ditepis oleh kiper Topten, sedangkan dua tendangan dari Topten melambung tinggi dan kena tiang gawang. Dua tendangan yang gagal menjadi goal dari Topten adalah tendangan ke dua dan ke empat, sedangkan dari Putra Baladika tendangan yang ditepis adalah tendangan pertama, ketiga, dan kelima.

Usai penentuan kemenangan lewat adu pinalti tersebut, dua ekspresi yang kontras terlihat di stadion kebanggaan warga Kota Serang tersebut. Satu sisi gembira ria, di sisi lainnya berduka cita. Gembira ria di kubu SSB Topten, dan berduka cita di kubu Putra Baladika. Meski demikian, disparitas rasa tersebut tidak berlangsung lama. Yang terjadi kemudian, sportifitas dit

Mas Jimo Semesta, [11.07.19 16:53]
unjukkan oleh kedua tim. Tim pemenang memberikan semangat pada yang kalah, dan tim yang kalah memberikan ucapan selamat.

Saya sendiri tidak tahu mesti bagaimana membawa perasaan ini. Setelah seharian terbawa kecewa, dari keisengan membunuh waktu sore, malah memberikan pengetahuan dan kesadaran bahwa perasaan bisa berubah cepat, bergantung apa yang kita hadapi. Kebingungan ini pun membuat saya lupa memastikan, apakah arti nama Topten. Di meja panitia saya tidak menemukan informasi, di banch Topten pun begitu. Tapi yang sedikit saya tahu dari kostum seorang penonton, Topten rupanya bukan berarti sepuluh teratas, tetapi akronim dari kalimat Totalias Putra Banten. Selamat SSB TOPTEN, yang telah mengibur saya di hari yang melelahkan ini. Dan semoga bisa top selamanya…

tulisan ini didapat dari https://alunalun.id

Penulis : Afrizal Hidayatulloh
Editor :  Radjimo S Wijono
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pilihan Awak